hidup sederhana atau gaya hidup minimalis merujuk kepada sejumlah praktik sukarela untuk menyederhanakan hidup seseorang. Misalnya, tindakan mengurangi jumlah dan jenis harta kepemilikan atau meningkatkan kemandirian.
Ciri gaya hidup ini ialah adanya perasaan puas dan cukup terhadap "apa yang dibutuhkan", bukan "apa yang diinginkan". Meskipun Asketisme mengimbau hidup sederhana dan menghindari kemewahan dan foya-foya, akan tetapi tidak semua penganjur gaya hidup minimalis adalah seorang asketik. Gaya hidup minimalis juga memiliki perbedaan signifikan dari kemiskinan akibat situasi eksternal, sebab ia mensyaratkan kesukarelaan.
Para penganut gaya hidup minimalis bisa memiliki berbagai motivasi untuk menjalankan lakunya, misalnya demi spiritualitas, kesehatan, menambah kuantitas waktu spesial di tengah-tengah keluarga dan para sahabat, menyeimbangkan waktu bekerja dan menikmati hidup, selera pribadi, berhemat, atau mengurangi sampah dan mencegah stres.
Gaya hidup minimalis juga bisa muncul sebagai respons aktif atas materialisme, dan konsumtivisme.
Salah
satu penyebab ketidakbahagiaan dalam sebuah keluarga adalah karena
adanya keinginan untuk hidup mewah. Pola pikir hidup mewah tidak harus
dimiliki oleh orang kaya. Orang miskin pun tidak sedikit yang menganut
cara berfikir mewah itu. Bedanya, kalau orang kaya dapat melaksanakan
keinginannya, sedang orang miskin hanya terbatas pada angan-angan
belaka. Namun akibatnya sama: mereka sama-sama menjadi makhluk yang
tidak akan pernah bisa bersyukur. Karena pola pikir mewah tidak mengenal
batas akhir dan tidak akan pernah terpuaskan. Yang ada adalah keluh
kesah karena perasaan kurang yang terus menghinggapi hati. Oleh karena
itu, hal pertama untuk mencapai hidup yang bahagia dan selalu mensyukuri
yang ada adalah dengan mengamalkan pola pikir dan pola hidup sederhana.
- See more at:
http://www.fatihsyuhud.net/2013/11/kerja-keras-dan-hidup-sederhana-kunci-hidup-bahagia/#sthash.bVSoL3jD.dpuf
